Gak Banyak yang Tahu, Dari Sini Asal Usul Kekayaan Jokowi

Jakarta, Presiden Joko Widodo memulai karirnya dari bawah sebelum menjadi kepala negara Indonesia. Beliau mulai bekerja di perusahaan kertas PT Kraft Aceh setelah lulus pada tahun 1985. Pada awal masa jabatannya, Jokowi mengaku kurang berjalan baik dan baru dua tahun bekerja di perusahaan tersebut. Lamanya ia bekerja karena tidak tahan dengan budaya kerja yang terkesan otoriter.

“Perintah ini sangat otoriter, meskipun eksekusinya berjalan cukup baik.Bikin betah,” kata Jokowi, sebagaimana dijelaskan Alberthiene Endah dalam Jokowi: Memimpin Kota, Menyentuh Jakarta (2012).

Baca Juga: Berkas Dilimpah, Mantan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko Segera Disidang Lagi

Jokowi kembali ke kampung halamannya pada tahun 1
. Bermodalkan tabungan gajinya, ia mencoba berbisnis. Pilihannya kemudian jatuh pada sektor industri kayu atau furnitur.

Namun untuk memulai semua ini, diperlukan modal yang sangat besar.Sementara uang yang dimiliki Jokowi tidak mencukupi. Mau tidak mau, dia harus menjadi karyawan lagi.

Beruntung dia diajak bekerja oleh kakaknya yang memiliki perusahaan penebangan kayu bernama Miyono. Usaha Miyono dimulai dari furniture, lantai parket dan berbagai perlengkapan rumah tangga.

Meski bekerja bersama saudara-saudaranya, Jokowi tidak mendapatkan keistimewaan apa pun.Ia terpaksa menggergaji, mencukur kayu, mengecat, termasuk mengangkut barang dalam kontainer.

Setahun kemudian, Jokowi bekerja kantoran. Selanjutnya, ia bekerja di bidang desain, pemasaran, dan manajemen sumber daya manusia. “Semuanya bersenang-senang. Saya belajar banyak,” kata Jokowi.

Jokowi pun berani memulai bisnis. Setelah memperoleh pengalaman dan modal pinjaman bank sebesar Rp 30 juta, ia mendirikan perusahaan sendiri pada 21 Februari 1988. Namanya CV Rakabu, di sebuah kios kecil di kawasan Kadipiro, Solo.

Pada tahun itu, Indonesia masih dianggap sebagai macan Asia. Pertumbuhan ekonomi pesat.Gambaran tersebut membuat Jokowi yakin, langkah wirausaha yang dilakukannya tidak salah.

Pada tahun-tahun awal, Jokowi hanya memiliki tiga pegawai. Selain Jokowi, mereka semua bekerja di sektor produksi. Tak jarang Jokowi membawa pulang pekerjaannya hingga serbuk gergaji bertebaran di seluruh rumah.

Prosesnya tidak sederhana, begitu pula pemasaran barang.Saat itu Rakabu masih pemain kecil dan tidak ada yang mengenalnya. Jokowi terpaksa “mengambil bolanya kembali.”

Dia pergi ke setiap rumah yang sedang dibangun untuk menawarkan perabotan. Ada yang berhasil, namun banyak pula yang gagal. Namun usahanya lambat laun membuahkan hasil.

Keberhasilan ini membuat suara gergaji tidak pernah asing lagi di laboratoriumnya. Setelah mendapat modal yang cukup, Jokowi berani melakukan ekspansi ke Jakarta pada tahun 1990. Di ibu kota tersebut, ia mendapat pesanan terbesar sejak berdirinya Rakabu. Total pesanan mencapai Rp 60 juta.

Dia lari ke Solo dan melakukan segalanya.Sayangnya, setelah barang selesai dan dikirim, pelanggan tersebut melarikan diri. Uang Rp 60 juta hanyut. Jokowi tertipu.

Kenang ibunya, Sudjiatmi, kasus penipuan ini membuat Jokowi sangat tertekan. Pasalnya, bisnis yang dirintisnya dari awal terpaksa gagal karena kebodohannya.Hingga ia harus tetap menganggur dan bekerja serabutan selama berbulan-bulan.

“Jokowi sering pulang dengan wajah murung. Selalu klemprak-klemprak (tidak semangat),” kata Sudjiatmi dalam Aku Sujiatmi Ibunda Jokowi (2014) karya Fransisca Ria Susanti & Kristin.

Baca Juga: Tiadakan Debat Khusus Cawapres, KPU Dinilai Hilangkan Hak Rakyat Mengetahui Kualitas Calon Pemimpin

Agar Jokowi tidak terpuruk, Sudjiatmi mengambil seluruh tabungan dan pinjaman modal usahanya senilai Rp 30 juta dari bank. Dari situlah bisnis Rakabu berkembang.

Permintaan furniture mulai meningkat. Kali ini dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sebelum memulai produksi, ia terlebih dahulu mengumpulkan deposit.

Pada saat yang sama, Jokowi mendapat modal Rp 500 juta dari Perusahaan Gas Negara (PGN). Modal inilah yang membuat Jokowi aktif berkembang dan berani mengekspor.Pabrik dan karyawan juga mulai berkembang.

Sejak tahun 1991, Jokowi kerap bolak-balik Solo-Jakarta-Singapura untuk menjual furnitur Rakabu. Dari Singapura, Jokowi kerap mendapat pesanan puluhan kontainer berisi produk kayu. Inilah awal kesuksesan Jokowi.

Antara tahun 1994 dan 1996, produksi furnitur Jokowi meledak.Total memiliki 8 pabrik dengan ratusan karyawan. Praktis, kekayaan Jokowi justru bertambah. Ia kini bisa membeli rumahnya di Solo, setelah bertahun-tahun menyewanya.

Pada masa krisis 1997-1998, ketika bisnis-bisnis populer hancur, Rakabu justru mencapai kesuksesan yang lebih besar. Kita tahu saat ini Rakabu mulai merambah pasar Australia, Amerika, Timur Tengah dan tentunya Asia.Sejak saat itu, Jokowi mulai merasakan manisnya perjuangan wirausaha.

Tidak mengherankan jika Jokowi, pengusaha yang kini menjadi presiden, memiliki banyak sumber daya. Ia tercatat sebagai pemilik sejumlah tanah, kendaraan, dan aset lainnya. Berdasarkan LHKPN 2023, seluruh kekayaannya diperkirakan mencapai Rp 82 miliar.